Jumat, 24 Juni 2011

3. KESETIAAN BAPA

Kesetiaan semakin hari semakin menjadi sesuatu yang langka di dunia. Banyak persahabatan hancur dan banyak keluarga pecah karena menurunnya kadar kesetiaan. Dalam keluarga Tuhan, kita mempunyai Sang Bapa yang setia. Ia setia akan janji-Nya dan setia dalam penyertaan-Nya atas kita.
BAPA YANG SETIA
Kau yang selalu mengasihiku dengan kasih yang kekal
PengorbananMu membuatku merasa berharga di mataMu
Kau yang selalu menyayangiku dengan kasih yang sungguh
KehadiranMu membuatku mengerti arti kehidupanku
Kau Tuhan adalah Bapa yang setia
Tiada sekalipun ku ditinggalkan
Penghiburan yang kurindukan selalu Kau sediakan
Slamanya kusembah Bapa yang setia
Takkan Kau biarkan ku terpisahkan
Yesus Kaulah sumber pertolonganku yang dapat kupercaya
Lagu karya Jonathan Prawira ini mempunyai pesan tentang, pertama, sebagaimana judul dan syairnya, penegasan bahwa Tuhan adalah Bapa yang setia. Kedua, kesetiaan Bapa itu terwujud dari kasih sayang-Nya kepada anak-anak-Nya. Ketiga, kesetiaan Bapa itu dinyatakan melalui penyertaan-Nya: ”Tiada sekali pun aku ditinggalkan”. Keempat, kesetiaan Bapa itu terwujud melalui penghiburan yang Ia berikan: ”Penghiburan yang kurindukan selalu Kau sediakan.”
Dalam Perjanjian Lama, beberapa kali Tuhan menyatakan diri-Nya dengan nama-nama yang menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan yang setia. Nama-Nya adalah Jehovah El Emeth yaitu Tuhan yang setia, terungkap dari Firman Tuhan: ”Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia” (Mzm 31:6). Nama-Nya yang lain adalah El Emunah yaitu Tuhan yang setia, seperti terungkap dalam Kitab Suci: ”Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa Tuhan, Allahmu, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan” (Ul 7:9). Pemazmur juga mencatat nama Tuhan sebagai Elohe Chasedi yang berarti Allahku dengan kasih setia-Nya: ”Allahku dengan kasih setia-Nya akan menyongsong aku; Allah akan membuat aku memandang rendah seteru-seteruku” (Mzm 59:11).
Prinsip bahwa Tuhan adalah Bapa yang setia dalam arti setia pada janji-Nya dan setia menyertai anak-anak-Nya dapat dilihat dari karya Roh Kudus. Pertama, Bapa dan Roh Kudus adalah Tuhan yang esa. Yesus menjelaskan kesatuan itu sebagai berikut: ”Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu (Roh Kudus); Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20). Nama ”Roh Bapa” menjelaskan Roh Kudus sebagai Pribadi yang memiliki hakikat yang sama dengan yang dimiliki Allah Bapa.
Kedua, Roh Kudus adalah ”janji Bapa” untuk orang-orang percaya. Janji tentang Roh Kudus itu diberikan Bapa sejak jaman Perjanjian Lama seperti dinubuatkan nabi Yoel: ”Kemudian pada hari itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orang yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu” (Yl 2:28-29). Yesus menyebut Roh Kudus sebagai ”janji Bapa”. Yesus berkata: ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal diam di kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk 24:49). Penegasan Yesus soal ”janji Bapa” itu juga dicatat dalam Kitab Para Rasul: ”Pada suatu hari Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang – demikian kata-Nya – telah kamu dengan dari pada-Ku” (Kis 1:4).
Tuhan adalah Bapa yang setia karena Ia menggenapi janji-Nya itu. Roh Kudus yang adalah ”janji Bapa” itu dicurahkan pada hari Pentakosta (Kis 2). Pada momen itu, Petrus menyitir kembali nubuatan nabi Yoel mengenai ”janji Bapa” tentang kehadiran Roh Kudus (Kis 2:17-18). Roh Kudus itu adalah Roh yang keluar (ekporeuomai) dari Bapa sendiri yang merupakan Penghibur bagi setiap orang percaya. Mengenai hal itu Yesus menjelaskan: ”Jikalau Penghibur (Penolong) yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar (ekporeuomai) dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh 15:26).

2. BAPA MENGENAL ANAK-ANAK-NYA

Kehidupan di dunia ini memberikan gambaran yang buruk mengenai sikap para ayah terhadap anak-anak mereka. Banyak orangtua tidak mempedulikan anak-anaknya. Mereka tak bisa dan tak mau menyelami hati anak-anaknya. Adapun Tuhan adalah Bapa yang memahami betul isi hati anak-anak-Nya.
”KAU MENGENAL HATIKU”
Hanya dekat kasihMu Bapa jiwaku pun tentram
Engkau menerimaku dengan sepenuhnya
Walau dunia melihat rupa namun Kau memandangku
Sampai kedalaman hatiku
Tuhan inilah yang kutahu Kau mengenal hatiku
Jauh melebihi semua yang terdekat sekalipun
Tuhan inilah yang kumau Kau menjaga hatiku
Supaya kehidupan memancar senantiasa
Pesan-pesan dari lirik lagu karya Jonathan Prawira ini adalah sebagai berikut. Pertama, sebagaimana judulnya, Tuhan adalah Bapa yang mengenal hati anak-anak-Nya. Ia mengenal kita jauh melebihi semua orang yang terdekat dengan kita, termasuk bapa biologis kita di dunia ini. Kedua, Tuhan adalah Bapa yang melihat kedalaman hati kita, bukan hanya melihat aspek luar dari diri kita. Ketiga, Tuhan menerima keadaan kita apa adanya. Keempat, kita perlu memohon agar Tuhan senantiasa menjagai hati kita supaya kita berkenan di hadapan-Nya.
Ayah atau senior kita tidak bisa mendalami isi hati kita sebagai anaknya atau sebagai yuniornya. Hal itu terlihat dari bagaimana Isai dan nabi Samuel menilai anak-anak Isai. Pada waktu itu, baik Isai maupun Samuel sama sekali tidak menduga kalau anak yang dipilih Tuhan menjadi raja Israel itu adalah Daud. Isai sendiri mengajukan ketujuh anaknya yang secara performanceluar biasa. Apa kata Kitab Suci? Demikian firman Tuhan kepada Samuel: ”Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1 Sam 16:7).
Kemampuan seorang ayah untuk memahami hati anaknya sangat terbatas. Ketika Yusuf mendapat mimpi dari Tuhan dan kemudian ia menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya dan kepada ayah dan ibunya, sang ayah (Yakub) tidak sepenuhnya paham. Kitab Suci mencatat demikian: ”Setelah hal itu (mimpi itu) diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya maka ia ditegor oleh ayahnya: mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” (Kej 37:10). Meskipun Yakub akhirnya menyimpan misteri mimpi itu di hatinya (Kej 37:11), Yakub pada dasarnya tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam diri Yusuf.
Di dunia ini, masalah-masalah yang melanda hubungan antara ayah dan anak seringkali bermula dari ketidakpahaman sang ayah terjadap hati sang anak. Ayah tidak tahu kesedihan hati anaknya. Ia tidak memahami kegelisahan hati anaknya. Ia tidak tahu kerinduan-kerinduan hati anaknya. Ia tidak mengerti obsesi-obsesi yang berkecamuk dalam hati anaknya. Yang banyak terjadi adalah ayah sengaja tidak mau peduli dengan hati anak-anaknya.
Tidak demikian dengan Bapa surgawi. Saat hati anak-anak-Nya lara, Bapa tahu. Saat hati anak-anak-Nya galau, Bapa membebat dengan kasihnya. Demikian disampaikan nabi Yeremia: ”Dengan menangis mereka datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi Bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku” (Yer 31:9).
Bapa surgawi tahu bagaimana menjaga hati anak-anak-Nya. Ia tak pernah melukai atau menyakiti hati anak-anak-Nya sendiri. Karena itu, Tuhan juga memerintahkan supaya kita memperlakukan anak-anak kita dengan baik. Demikian perintah Tuhan: ”Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Ef 6:4). Kalau sekarang kita merasa terluka karena Tuhan, itu bukan karena Tuhan jahat, namun Ia sedang mendidik dan mendewasakan kita. Penulis Ibrani mengingatkan demikian: ”Janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya” (Ibr 12:5)

1. KUPANGGIL DIA BAPA

Hanya orang Kristen yang memanggil Tuhannya sebagai Bapa. Tuhan yang adalah Pencipta khalik langit dan bumi, Raja di atas segala raja, Penguasa jagad raya, berkenan menjadikan manusia sebagai anak-Nya. Sementara banyak kepercayaan lain mengidentifikasikan Tuhan sebagai Penguasa yang menakutkan, orang percaya menikmati keintiman sebagai anak-anak Bapa Surgawi.
”KAU TUHAN ADALAH BAPAKU”
Ku miliki kasihMu, yang tak ternilai bagiku
Meskipun tak kupunya, siapapun juga
Sungguh indah kasihMu, yang tak bersyarat untukku
Meskipun tak ada satu yang mengasihiku
Kau Tuhan adalah Bapaku yang sangat menyayangiku
Tak pernah sekalipun kudapati Kau sakiti hatiku
Kau Tuhan adalah Bapaku slalu memperhatikanku
Tak ada alasan kuragu-ragu tuk serahkan hatiku padaMu
Lagu karya Jonathan Prawira ini memuat beberapa pesan sebagai berikut. Pertama, penegasan iman bahwa Tuhan adalah Bapa bagi orang-orang percaya. Hal itu terungkap dalam judul dan syair-syairnya: ”Kau Tuhan adalah Bapaku”. Kedua, Tuhan adalah Pribadi Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya. Ketiga, keyakinan akan Tuhan sebagai Bapa selayaknya mendorong komitmen untuk menyerahkan hidup kepada-Nya.
Tuhan sudah menyatakan diri sebagai Bapa sejak jaman Perjanjian Lama. Melalui nabi Yeremia, Tuhan berfirman kepada bangsa Israel: ”Dengan menangis mereka datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi Bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku” (Yer 31:9).
Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk memanggil Tuhan sebagai Bapa. Mengenai perihal doa, Yesus memberi arahan sebagai berikut: ”Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga….” (Mat 6:9). Karena mengajar bahwa Tuhan adalah Bapa-Nya maka Yesus ditolak: ”Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (Yoh 5:18)
Banyak bagian dalam Alkitab Perjanjian Baru yang menjelaskan bahwa Tuhan adalah Bapa, seperti yang didaftarkan oleh Elmer L. Towns sebagai berikut: ”Bapa, Tuhan langit dan bumi” (Luk 10:21), ”Bapa di Surga” (Luk 11:13), ”Bapa” (Yoh 4:23), ”Bapa-Ku” (Yoh 5:17), ”Bapa, Allah” (Yoh 6:27), ”Bapa kami satu, yaitu Allah” (Yoh 8:41), ”Bapa yang kudus” (Yoh 17:11), ”Bapa yang adil” (Yoh 17:15), ”Allah, Bapa kita” (Rom 1:7), ”Abba, Bapa” (Rom 8:15), ”Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 15:6), ”Bapa yang penuh belas kasihan” (2 Kor 1:3), ”Allah dan Bapa dari semua” (Ef  4:6), ”Bapa segala roh” (Ibr 12:9), dan ”Bapa segala terang” (Yak 1:17).
Kapan seorang manusia bisa memanggil Tuhan sebagai Bapanya? Kita menjadi anak Tuhan dan Tuhan menjadi Bapa kita setelah kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Penebusan oleh Yesus membawa kita menjadi anak Tuhan dan kita pun berhak memanggil Dia sebagai Bapa. Paulus menjelaskan demikian: ”Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ya Abba, ya Bapa!” (Gal 4:5-6). Kepada jemaat di Roma, Paulus menjelaskan prinsip ini dengan kalimat sebagai berikut: ”Sebab kamu tidak lagi menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ya Abba, ya Bapa!” (Rom 8:15).
Proses menjadi anak Bapa Surgawi disebut sebagai konsep pengangkatan (adoption). Prinsipnya, kepercayaan kita kepada Yesus menjadikan kita dilahirkan baru sebagai anak Tuhan. Kita dilahirkan menjadi anak-anak dalam keluarga Tuhan. Paulus menjelaskannya demikian: ”Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus” (Gal 3:26). Kita menjadi anak-anak Bapa bukan karena amal saleh atau ketekunan ibadah kita. Kita diangkat menjadi anak Tuhan karena percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

BAPA, ANAK, ROH

 Sudah sering orang Kristen mendengar dan menyebut nama “Bapa-Anak-Roh Kudus”, baik dalam doa-doa maupun ibadah. Itulah kenyataan mengenai Tuhan yang kita sembah. Meskipun demikian, tidaklah untuk mudah menjelaskan konsep teologis mengenai Ketuhanan Kristen ini.
“TIADA NAMA LAIN”
Hanya Kau Allah Bapaku
Tuhan Juru Slamatku
Saat kusebut namaMu Yesus
Kau menjawab imanku
Hanya Kau Raja Damaiku
Roh Kudus penghiburku
Saat ku ikut suaraMu Yesus
Kau berkati jalanku
Tiada nama lain yang berkuasa
menyelamatkan hidupku
Hanya nama Yesus yang kupercaya
Kau slalu sanggup menolongku
Lagu karya Jonathan Prawira yang diberi judul ”Tiada Nama Lain” ini mempunyai pesan-pesan tentang, pertama, keesaan Tuhan menurut iman Kristen yaitu Pribadi Bapa, Anak (Yesus), dan Roh Kudus. Kedua, Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia. Ketiga, Roh Kudus adalah Roh Penghibur dan Tuhan itu sendiri. Keempat, nama Yesus adalah nama yang penuh kuasa yang olehnya kita diselamatkan.
Pribadi Bapa harus dipahami secara utuh dalam kaitannya dengan Anak dan Roh Kudus. Kita tidak bisa membicarakan Pribadi Bapa tanpa membicarakan Pribadi Anak (Yesus) dan Pribadi Roh Kudus. Alkitab menjelaskan bahwa Tuhan kita adalah jamak. Ketika Tuhan membicarakan perihal diri-Nya, Ia memakai kata ganti bentuk jamak (Kej 1:26; 3:22; 11:7) dan kata kerja bentuk jamak (Kej 1:26; 11:7). Namun, Alkitab Perjanjian Lama jelas-jelas menegaskan tentang keesaan Tuhan: ”Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!” (Ul 6:4). Tuhan juga menyampaikan firman yang menunjukkan bahwa Dia adalah esa adanya: ”Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akullah Allah dan tidak ada yang seperti Aku” (Yes 46:9).
Alkitab Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa Tuhan itu Esa: ”Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik!” (Yak 2:19a-b). Kepada jemaat Efesus, Paulus menegaskan tentang Tuhan yang esa: “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” (Ef 4:3-6).
Baik Bapa, Yesus, maupun Roh Kudus, semuanya adalah Tuhan. Mengenai Bapa adalah Tuhan, Yesus berkata: “…sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya” (Yoh 6:27). Dalam suratnya, Petrus juga menegaskan bahwa Bapa itu adalah Tuhan: “…sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita….” (1 Ptr 1:2).
Yesus dinyatakan sebagai Tuhan dalam Alkitab. Yesus adalah sosok Pribadi yang menunjukkan ciri-ciri Tuhan seperti Mahatahu (Mat 9:4), Mahakuasa (Mat 28:18), Mahahadir (Mat 28:20). Ia pun melakukan hal-hal yang hanya dilakukan oleh Tuhan seperti tindakan mengampuni dosa (Mrk 2:1-12) dan membangkitkan orang dari kematian (Yoh 12:9). Yesus adalah Tuhan yang akan menghakimi semua manusia seperti ditulis dalam Injil: ”Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia” (Yoh 5:27).
Roh Kudus juga adalah Tuhan itu sendiri. Ketika Ananias mendustai Roh Kudus sesungguhnya ia mendustai Tuhan itu sendiri. Mengenai kebenaran itu Petrus berkata: ”Ananias, mengapa hatimu dikuasai iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? … Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah” (Kis 5:3-4).
Untuk memudahkan pemahaman tentang Tuhan yang esa, dikembangkanlah istilah-istilah dan ilustrasi-ilustrasi. Istilah ”Tritunggal” dan ”Trinitas” cukup memberi penjelasan, meskipun itu bukan istilah-istilah Alkitab. Teolog Charles Ryrie menggambarkan konsep ”tiga dalam satu” itu sebagai air yang unsur kimianya tetap walaupun dalam keadaan padat (es), gas (uap), atau cair (air).

ni malaikat

KASIH DAN PENGAMPUNAN (2)

Manusia bisa saja mengampuni orang yang bersalah kepadanya, namun masalah melupakan masa lalu bukan perkara gampang. Tak jarang, ketika orang itu melakukan kesalahan lagi, kita mengungkit-ungkit hal-hal yang sudah-sudah. Seperti itulah yang sering terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, antara bapa dan anaknya. Tidak demikian dengan Tuhan kita.
“MENGAMPUNI DAN MELUPAKAN”
Kau menanggung kutuk dosaku
Betapa pun besarnya itu
Sehingga Bapa di surga
Memalingkan wajah dariMu
Kau lunasi hutang dosaku
Betapa pun mahalnya itu
Tak pernah sekali jua
Kau mengungkit lagi masa lalu
Mengampuni dan melupakan
Itulah yang Engkau lakukan (ajarkan)
Supaya ku kan mengampuni dan melupakan
Lagu Jonathan Prawira berbicara tentang kasih dan pengampunan Tuhan. Pertama, Tuhan menebus dosa-dosa kita. Kedua, prinsip yang dijadikan judul lagu – “Mangampuni dan Melupakan” – adalah sekali mengampuni maka Tuhan tidak pernah mengungkit-ungkin dosa-dosa kita di masa lalu. Ia melukapan semua kesalahan-kesalahan kita, betapa pun besarnya itu. Mengampuni dan melupakan merupakan konsep pengampunan yang diajarkan Tuhan.
Pada masa Perjanjian Lama, Tuhan sudah menyatakan diri sebagai Penebus yang mengampuni tanpa mengingat-ingat dosa bangs Israel di masa silam. Demikian Firman-Nya melalui nabi Yesaya: “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh  karena Aku sendiri, dan aku tidak mengingat-ingat  dosamu” (Yes 43:25). Padahal bangsa itu, kata Tuhan, sudah memberati Tuhan dengan dosa-dosa mereka dan sudah menyusahkan Tuhan dengan kesalahan-kesalahan mereka (Yes 43:24).
Apa yang dilakukan Yesus kepada Petrus pasca kebangkitan-Nya menunjukkan bahwa Yesus tidak mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu murid-Nya. Petrus adalah sosok murid yang gegabah. Keinginannya kuat tetapi sering tidak konsisten. Menjelang Yesus ditangkap dan kemudian disalibkan, Petrus dengan mantab menyatakan komitmennya kepada Yesus: “Biarpun mereka semua terguncang imannya, aku tidak!” (Mrk 14:29). Kenyataannya, Petrus menyangkal tiga kali sebelum ayam berkokok (Mrk 14:66-72), tepat seperti yang dinubuatkan Yesus (Mrk 14:30). Namun, meskipun itu sangat memalukan dan mengecewakan, Yesus tidak mengungkitnya kembali. Sebaliknya, tiga kali Petrus menyangkal, tiga kali pula Yesus memberinya kepercayaan untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:15-17). Artinya, sebanyak apa Petrus melakukan dosa, sebanyak itu pulalah Tuhan mengampuni, menghibur, mengangkat, dan bahkan mempercayainya kembali.
Prinsip bahwa Tuhan mengampuni dan melupakan dosa kita terkandung dalam konsep “pembenaran” (justification) dalam proses keselamatan (salvation) di dalam Kristus. Pada prinsipnya, semua manusia itu tidak benar, semuanya berdosa. Paulus membeberkan ketidakbenaran manusia itu sebagai berikut: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah….” (Rom 3:10-14). Tetapi, begitu percaya kepada Yesus maka manusia dibenarkan dengan cuma-cuma: “Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rom 3:24).
Keselamatan berarti pembenaran dan pengkudusan oleh Kristus seperti ditulis Paulus: “Tetap oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30). Begitu percaya kepada Yesus serta menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, status kita berubah menjadi “orang benar” atau “orang kudus” milik Tuhan. Itulah yang disebut sebagai pengkudusan secara posisional (positional sanctification). Meskipun jemaat Korintus masih jatuh bangun dalam dosa, secara posisi mereka adalah umat Tuhan yang kudus. Paulus menyebut mereka sebagai orang-orang kudus (1 Kor 1:2). Tetapi, meskipun Tuhan melupakan dosa-dosa masa lalu, Tuhan juga ingin supaya kita bertumbuh dalam kekudusan secara terus menerus (progressive sanctification).

yesus maha pengampun 1

Beberapa bagian Alkitab cukup puitis. Kitab Mazmur sendiri dikategorikan sebagai kitab puisi. Namun, pesan mengenai kasih dan pengampunan Tuhan bukan sekedar bualan hiperbolis. Kasih dan pengampunan Tuhan itu benar dan nyata.
“SEJAUH TIMUR DARI BARAT”
Sejauh timur dari barat, Engkau membuang dosaku
Tiada Kau ingat lagi pelanggaranku
Jauh ke dalam tubir laut Kau melemparkan dosaku
Tiada Kau perhitungkan kesalahanku
Betapa besar kasih pengampunanMu Tuhan
Tak Kau pandang hina hati yang hancur
Ku berterima kasih kepadaMu ya Tuhan
Pengampunan yang Kau beri pulihkanku
Jonathan Prawira hendak menekankan betapa besarnya kasih dan pengampunan Tuhan. Syair yang ditulisnya indah dan Alkitabiah: ”Sejauh timur dari barat, Engkau membuang dosaku; Tiada Kau ingat lagi pelanggaranku; Jauh ke dalam tubir laut Kau melemparkan dosaku; Tiada Kau perhitungkan kesalahanku.”
Syair itu diambil dari Alkitab: ”Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mzm 103:12). Anugerah pengampunan yang diberikan Tuhan ini sebenarnya merupakan bagian dari apa yang disebut Matthew Henry sebagai kebaikan dan belaskasihan (goodness and comppasion) Tuhan (Mzm 103:6-18). Tuhan itu baik bagi semua orang, adil bagi semua orang (Mzm 103:6). Karena itu, pertama, Ia menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya: ”Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel”  (Mzm 103:7).
Kedua, Tuhan yang penuh kasih itu selalu siap untuk mengampuni (ready to forgive). Ia tidak marah (slow to anger): ”Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm 103:8). Kemarahannya juga tidak lama (not long to anger): ”Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam” (Mzm 103:9).
Ketiga, karena kasih maka Tuhan memaafkan atau mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita. Hal itu dilakukannya karena Ia memiliki kekayaan akan belas kasihan illahi (the trancendent riches of God’s mercy): ”Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm 103:11). Karena itu ia memiliki kepenuhan dalam pengampunan (the fullness of his pardon): “”Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mzm 103:12). Ungkapan ilustratif geografis dari timur ke barat menunjukkan betapa panjangnya kasih Tuhan (the great extent).
Keempat, kasih dan pengampunan itu merupakan manifestasi dari belas kasihan Tuhan kepada manusia: ”Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikianlah Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm 103:13). Mengapa Tuhan memiliki belas kasihan kepada manusia? Jawabnya adalah karena Ia memaklumi eksistensi kita, penderitaan kita, dan kehinaan kita sebagai manusia berdosa: ”Sebab Ia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (Mzm 103:14).
Kelima, Tuhan memutuskan untuk melanjutkan atau meneruskan kasih sayang dan pengampunaannya atas kita. Kasih sayang Tuhan tidak sependek usia manusia. Kasih Tuhan melampaui batas usia kita, baik bagi kita sendiri yang setelah mati akan hidup dalam kekekalan maupun bagi generasi-generasi yang hidup setelah kita. Mengenai kontinuitas kasih dan pengampunan Tuhan itu pemazmur menulis: ”Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikian ia berbunga; apabila angin melintasinya maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tetapi kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya” (Mzm 103:15-18).