Jumat, 24 Juni 2011

1. KUPANGGIL DIA BAPA

Hanya orang Kristen yang memanggil Tuhannya sebagai Bapa. Tuhan yang adalah Pencipta khalik langit dan bumi, Raja di atas segala raja, Penguasa jagad raya, berkenan menjadikan manusia sebagai anak-Nya. Sementara banyak kepercayaan lain mengidentifikasikan Tuhan sebagai Penguasa yang menakutkan, orang percaya menikmati keintiman sebagai anak-anak Bapa Surgawi.
”KAU TUHAN ADALAH BAPAKU”
Ku miliki kasihMu, yang tak ternilai bagiku
Meskipun tak kupunya, siapapun juga
Sungguh indah kasihMu, yang tak bersyarat untukku
Meskipun tak ada satu yang mengasihiku
Kau Tuhan adalah Bapaku yang sangat menyayangiku
Tak pernah sekalipun kudapati Kau sakiti hatiku
Kau Tuhan adalah Bapaku slalu memperhatikanku
Tak ada alasan kuragu-ragu tuk serahkan hatiku padaMu
Lagu karya Jonathan Prawira ini memuat beberapa pesan sebagai berikut. Pertama, penegasan iman bahwa Tuhan adalah Bapa bagi orang-orang percaya. Hal itu terungkap dalam judul dan syair-syairnya: ”Kau Tuhan adalah Bapaku”. Kedua, Tuhan adalah Pribadi Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya. Ketiga, keyakinan akan Tuhan sebagai Bapa selayaknya mendorong komitmen untuk menyerahkan hidup kepada-Nya.
Tuhan sudah menyatakan diri sebagai Bapa sejak jaman Perjanjian Lama. Melalui nabi Yeremia, Tuhan berfirman kepada bangsa Israel: ”Dengan menangis mereka datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi Bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku” (Yer 31:9).
Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk memanggil Tuhan sebagai Bapa. Mengenai perihal doa, Yesus memberi arahan sebagai berikut: ”Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga….” (Mat 6:9). Karena mengajar bahwa Tuhan adalah Bapa-Nya maka Yesus ditolak: ”Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (Yoh 5:18)
Banyak bagian dalam Alkitab Perjanjian Baru yang menjelaskan bahwa Tuhan adalah Bapa, seperti yang didaftarkan oleh Elmer L. Towns sebagai berikut: ”Bapa, Tuhan langit dan bumi” (Luk 10:21), ”Bapa di Surga” (Luk 11:13), ”Bapa” (Yoh 4:23), ”Bapa-Ku” (Yoh 5:17), ”Bapa, Allah” (Yoh 6:27), ”Bapa kami satu, yaitu Allah” (Yoh 8:41), ”Bapa yang kudus” (Yoh 17:11), ”Bapa yang adil” (Yoh 17:15), ”Allah, Bapa kita” (Rom 1:7), ”Abba, Bapa” (Rom 8:15), ”Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 15:6), ”Bapa yang penuh belas kasihan” (2 Kor 1:3), ”Allah dan Bapa dari semua” (Ef  4:6), ”Bapa segala roh” (Ibr 12:9), dan ”Bapa segala terang” (Yak 1:17).
Kapan seorang manusia bisa memanggil Tuhan sebagai Bapanya? Kita menjadi anak Tuhan dan Tuhan menjadi Bapa kita setelah kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Penebusan oleh Yesus membawa kita menjadi anak Tuhan dan kita pun berhak memanggil Dia sebagai Bapa. Paulus menjelaskan demikian: ”Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ya Abba, ya Bapa!” (Gal 4:5-6). Kepada jemaat di Roma, Paulus menjelaskan prinsip ini dengan kalimat sebagai berikut: ”Sebab kamu tidak lagi menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ya Abba, ya Bapa!” (Rom 8:15).
Proses menjadi anak Bapa Surgawi disebut sebagai konsep pengangkatan (adoption). Prinsipnya, kepercayaan kita kepada Yesus menjadikan kita dilahirkan baru sebagai anak Tuhan. Kita dilahirkan menjadi anak-anak dalam keluarga Tuhan. Paulus menjelaskannya demikian: ”Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus” (Gal 3:26). Kita menjadi anak-anak Bapa bukan karena amal saleh atau ketekunan ibadah kita. Kita diangkat menjadi anak Tuhan karena percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar