Jumat, 24 Juni 2011

2. BAPA MENGENAL ANAK-ANAK-NYA

Kehidupan di dunia ini memberikan gambaran yang buruk mengenai sikap para ayah terhadap anak-anak mereka. Banyak orangtua tidak mempedulikan anak-anaknya. Mereka tak bisa dan tak mau menyelami hati anak-anaknya. Adapun Tuhan adalah Bapa yang memahami betul isi hati anak-anak-Nya.
”KAU MENGENAL HATIKU”
Hanya dekat kasihMu Bapa jiwaku pun tentram
Engkau menerimaku dengan sepenuhnya
Walau dunia melihat rupa namun Kau memandangku
Sampai kedalaman hatiku
Tuhan inilah yang kutahu Kau mengenal hatiku
Jauh melebihi semua yang terdekat sekalipun
Tuhan inilah yang kumau Kau menjaga hatiku
Supaya kehidupan memancar senantiasa
Pesan-pesan dari lirik lagu karya Jonathan Prawira ini adalah sebagai berikut. Pertama, sebagaimana judulnya, Tuhan adalah Bapa yang mengenal hati anak-anak-Nya. Ia mengenal kita jauh melebihi semua orang yang terdekat dengan kita, termasuk bapa biologis kita di dunia ini. Kedua, Tuhan adalah Bapa yang melihat kedalaman hati kita, bukan hanya melihat aspek luar dari diri kita. Ketiga, Tuhan menerima keadaan kita apa adanya. Keempat, kita perlu memohon agar Tuhan senantiasa menjagai hati kita supaya kita berkenan di hadapan-Nya.
Ayah atau senior kita tidak bisa mendalami isi hati kita sebagai anaknya atau sebagai yuniornya. Hal itu terlihat dari bagaimana Isai dan nabi Samuel menilai anak-anak Isai. Pada waktu itu, baik Isai maupun Samuel sama sekali tidak menduga kalau anak yang dipilih Tuhan menjadi raja Israel itu adalah Daud. Isai sendiri mengajukan ketujuh anaknya yang secara performanceluar biasa. Apa kata Kitab Suci? Demikian firman Tuhan kepada Samuel: ”Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1 Sam 16:7).
Kemampuan seorang ayah untuk memahami hati anaknya sangat terbatas. Ketika Yusuf mendapat mimpi dari Tuhan dan kemudian ia menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya dan kepada ayah dan ibunya, sang ayah (Yakub) tidak sepenuhnya paham. Kitab Suci mencatat demikian: ”Setelah hal itu (mimpi itu) diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya maka ia ditegor oleh ayahnya: mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” (Kej 37:10). Meskipun Yakub akhirnya menyimpan misteri mimpi itu di hatinya (Kej 37:11), Yakub pada dasarnya tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam diri Yusuf.
Di dunia ini, masalah-masalah yang melanda hubungan antara ayah dan anak seringkali bermula dari ketidakpahaman sang ayah terjadap hati sang anak. Ayah tidak tahu kesedihan hati anaknya. Ia tidak memahami kegelisahan hati anaknya. Ia tidak tahu kerinduan-kerinduan hati anaknya. Ia tidak mengerti obsesi-obsesi yang berkecamuk dalam hati anaknya. Yang banyak terjadi adalah ayah sengaja tidak mau peduli dengan hati anak-anaknya.
Tidak demikian dengan Bapa surgawi. Saat hati anak-anak-Nya lara, Bapa tahu. Saat hati anak-anak-Nya galau, Bapa membebat dengan kasihnya. Demikian disampaikan nabi Yeremia: ”Dengan menangis mereka datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, di mana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi Bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku” (Yer 31:9).
Bapa surgawi tahu bagaimana menjaga hati anak-anak-Nya. Ia tak pernah melukai atau menyakiti hati anak-anak-Nya sendiri. Karena itu, Tuhan juga memerintahkan supaya kita memperlakukan anak-anak kita dengan baik. Demikian perintah Tuhan: ”Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Ef 6:4). Kalau sekarang kita merasa terluka karena Tuhan, itu bukan karena Tuhan jahat, namun Ia sedang mendidik dan mendewasakan kita. Penulis Ibrani mengingatkan demikian: ”Janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya” (Ibr 12:5)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar