Jumat, 24 Juni 2011

KASIH DAN PENGAMPUNAN (2)

Manusia bisa saja mengampuni orang yang bersalah kepadanya, namun masalah melupakan masa lalu bukan perkara gampang. Tak jarang, ketika orang itu melakukan kesalahan lagi, kita mengungkit-ungkit hal-hal yang sudah-sudah. Seperti itulah yang sering terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, antara bapa dan anaknya. Tidak demikian dengan Tuhan kita.
“MENGAMPUNI DAN MELUPAKAN”
Kau menanggung kutuk dosaku
Betapa pun besarnya itu
Sehingga Bapa di surga
Memalingkan wajah dariMu
Kau lunasi hutang dosaku
Betapa pun mahalnya itu
Tak pernah sekali jua
Kau mengungkit lagi masa lalu
Mengampuni dan melupakan
Itulah yang Engkau lakukan (ajarkan)
Supaya ku kan mengampuni dan melupakan
Lagu Jonathan Prawira berbicara tentang kasih dan pengampunan Tuhan. Pertama, Tuhan menebus dosa-dosa kita. Kedua, prinsip yang dijadikan judul lagu – “Mangampuni dan Melupakan” – adalah sekali mengampuni maka Tuhan tidak pernah mengungkit-ungkin dosa-dosa kita di masa lalu. Ia melukapan semua kesalahan-kesalahan kita, betapa pun besarnya itu. Mengampuni dan melupakan merupakan konsep pengampunan yang diajarkan Tuhan.
Pada masa Perjanjian Lama, Tuhan sudah menyatakan diri sebagai Penebus yang mengampuni tanpa mengingat-ingat dosa bangs Israel di masa silam. Demikian Firman-Nya melalui nabi Yesaya: “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh  karena Aku sendiri, dan aku tidak mengingat-ingat  dosamu” (Yes 43:25). Padahal bangsa itu, kata Tuhan, sudah memberati Tuhan dengan dosa-dosa mereka dan sudah menyusahkan Tuhan dengan kesalahan-kesalahan mereka (Yes 43:24).
Apa yang dilakukan Yesus kepada Petrus pasca kebangkitan-Nya menunjukkan bahwa Yesus tidak mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu murid-Nya. Petrus adalah sosok murid yang gegabah. Keinginannya kuat tetapi sering tidak konsisten. Menjelang Yesus ditangkap dan kemudian disalibkan, Petrus dengan mantab menyatakan komitmennya kepada Yesus: “Biarpun mereka semua terguncang imannya, aku tidak!” (Mrk 14:29). Kenyataannya, Petrus menyangkal tiga kali sebelum ayam berkokok (Mrk 14:66-72), tepat seperti yang dinubuatkan Yesus (Mrk 14:30). Namun, meskipun itu sangat memalukan dan mengecewakan, Yesus tidak mengungkitnya kembali. Sebaliknya, tiga kali Petrus menyangkal, tiga kali pula Yesus memberinya kepercayaan untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:15-17). Artinya, sebanyak apa Petrus melakukan dosa, sebanyak itu pulalah Tuhan mengampuni, menghibur, mengangkat, dan bahkan mempercayainya kembali.
Prinsip bahwa Tuhan mengampuni dan melupakan dosa kita terkandung dalam konsep “pembenaran” (justification) dalam proses keselamatan (salvation) di dalam Kristus. Pada prinsipnya, semua manusia itu tidak benar, semuanya berdosa. Paulus membeberkan ketidakbenaran manusia itu sebagai berikut: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah….” (Rom 3:10-14). Tetapi, begitu percaya kepada Yesus maka manusia dibenarkan dengan cuma-cuma: “Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rom 3:24).
Keselamatan berarti pembenaran dan pengkudusan oleh Kristus seperti ditulis Paulus: “Tetap oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30). Begitu percaya kepada Yesus serta menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, status kita berubah menjadi “orang benar” atau “orang kudus” milik Tuhan. Itulah yang disebut sebagai pengkudusan secara posisional (positional sanctification). Meskipun jemaat Korintus masih jatuh bangun dalam dosa, secara posisi mereka adalah umat Tuhan yang kudus. Paulus menyebut mereka sebagai orang-orang kudus (1 Kor 1:2). Tetapi, meskipun Tuhan melupakan dosa-dosa masa lalu, Tuhan juga ingin supaya kita bertumbuh dalam kekudusan secara terus menerus (progressive sanctification).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar